Sejarah Pemberontakan PRRI dan Permesta

Diposting pada

Kronologi pemberontakan PRRI dan Permesta dimulai pada hari Jumat pada tangga 2 Maret 1957. Pada pukul 03:00 dini hari, Letkol Ventje Sumual di Makassar mengumumkan naskah proklamasi yang disebut dengan Staat van Oorlog en Beleg (SOB). Dalam Bahasa Indonesia, kalimta tersebut berarti “negara sedang dalam keadaan darurat perang”. Proklamasi inilah yang merupakan latar belakang pemberontakan PRRI dan Permesta. Peristiwa ini disebut sebagai upaya dari wilayah Indoenesia Timur untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun Letkol Ventje Sumual yang merupakan tokoh PRRI dan Permesta menyangkal tudingan tersebut. Namun dia berkata dia tidak menyesal untuk mendeklarasikan gerakan PRRI dan Permesta meskipun harus dicap sebagai pemberontak.

Sejarah Pemberontakan PRRI dan Permesta

Baca juga : Latar Belakang Pemberontakan DI/TII Jawa Barat

Proklamasi yang dibacakan oleh beliau memang tidak mengandung unsur memerdekakan wilayah Makassar. Bahkan teks tersebut pun juga diawali dengan kalimat “Demi keutuhan Republik Indonesia”. Jika dikaji dari ilmu linguistik, tentu kalimat tersebut tidak ada maksud untuk melepaskan diri dari Indonesia. Dalam Proklamasi Permesta tersebut anya menyatakan bahwa daerah Makassar atau wilyah Teritorium VII sedang dalam keadaan genting dan darurat perang. Salah satu dari latar belakang terjadinya pemberontakan PRRI dan Permestamemang dikarenakan adanya keadaan darurat perang sehingga bisa memberlakukan pemerintahan militer yang sesuai dengan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) 1950.

Dalam proklamasi yang Permesat sebutkan juga membuat peralihan dan penyesuaian yang dilakukan dalam waktu sesingkat mungkin. Pemberontakan PRRI dan Permesta juga menyebutkan bahwa mereka tidak melepaskan diri dari Republik Indonesia. Bahkan dalam proklamasi tersebut pun juga terdapat pengulangan bahwa mereka tidak akan lepas dari Indonesia. Hal inilah yang membuat PRRI dan Permesta bukanlah gerakan separatis. Tujuan PRRI dan Permesta yang dibentuk oleh Ventje Sumual memang disamakan seperti gerakan reformasi yang terjadi pada tahun 1998. PRRI dan Permesat bukanlah pemberontakan. Namun mereka adalah deklarasi politik sama seperti reformasik yang memperjuangkan Indonesia. Bahkan dulunya gerakan reformasi disebut sebagai Permesta.

Ventje Sumual pun juga menambahkan bahwa deklarasi PRRI dan Permesta tidak menuaikan pertentangan dari Ahmad Yani dan A.H. Nasution yang merupakan dua petinggi militer Republik Indonesia pada saat itu. Mereka berdua berkunjung ke Makassar pada bulan Mei tahun 1957. A.H. Nasution pun setuju dengan isi proklamasi PRRI dan Permesta. Namun jika itu untuk kepentingan prajurit, maka tidak usah berpolitik.

Saat Permesta berdiri, di saat yang bersamaan hadir pula Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat. Ada sebagian orang yang menganggap bahwa PRRI sama dengan Permesta. Kedua gerakan ini saling mendukung dan melengkapi satu sama lain. Namun ada juga yang berpendapat bahwa PRRI merupakan gerakan pemberontakan sedangkan Permesta tidak. Permesta merupakan salah satu program untuk pembangunan kekuatan militer di Indonesia Timur, namun PRRI adalah gerakan pmberontakan.

Baca juga : Peristiwa Pemberontakan PKI di Madiun

Banyak sekali pendapat yang bertentangan tentang pemberontakan PRRI dan Permesta. Ada yang menyebut bahwa keduanya adalah gerakan pemberontakan, ada yang menyebut keduanya bukan pemberontakan, dan ada juga yang menyebut salah satunya sebagai gerakan pemberontakan. Perbedaan PRRI dan Permesat adalah, PRRI cukup berani untuk membentuk pemerintahan baru. Pemerintahan ini pun juga dilengkapi dengan susuna kabinet dan jajaran menterinya yang baru. Sedangkan Permesta diciptakan untuk keadilan bagi masyarakat di wilayah Indonesia Timur dengan cara meluaskan otonomi wilayah di sana. Jadi, hingga sekarang pun masih ada perdebatan tentang pemberontakan PRRI dan Permesta.

Loading...

Tinggalkan Balasan