Putmainah, Kisah Anggota PKI Yang Lolos Dari Pembantaian

Putmainah, Kisah Anggota PKI Yang Lolos Dari Pembantaian

Posted on

Walaupun kini Putmainah telah berpulang ke hadapan Yang Maha Kuasa, namun ketika membahas kisah anggota PKI yang lolos dari pembantaian, maka namanya akan sering disebutkan.Meninggal pada 25 Mei 2016, Putmainah dimakamkan di TPU Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, adik Putmainah mengungkapkan bahwa ia sempat mengucapkan ‘maju terus pantang mundur’ sembari mengepalkan tangan.

Cerita Putmainah Tentang Kisah Anggota PKI yang Lolos dari Pembantaian di Blitar

Putmainah, Kisah Anggota PKI Yang Lolos Dari Pembantaian

Baca juga : Faktor Penghambat Dan Faktor Pendukung Integrasi Nasional Di Indonesia

Dulu, Putmainah sempat ikut menuturkan bagaimana kisah anggota PKI yang lolos dari pembantaian ini. Ia adalah mantan Ketua Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) Blitar sekaligus anggota Fraksi PKI. Sementara, suaminya Subandi, dulu adalah ketua Front Nasional Blitar sekaligus Ketua DPRD Kota Blitar dari Fraksi PKI.Posisi mereka inilah yang membuat keduanya menjadi incaran gelombang pembantaian anggota PKI 1965. Walaupun ia berhasil selamat, namun ia tidak pernah mendengar kabar tentang suaminya lagi sejak saat itu. Putmainah menceritakan bagaimana ia harus melarikan diri bersama ketujuh anaknya ke Desa Pakisrejo ke kediaman orang tuanya. Saat itu, ia tidak berpikir untuk membawa harta benda apapun selain pakaian yang menempel di badan.

Kisah Putmainah, Korban Korban Penumpasan PKI

Setelah memastikan anak-anaknya aman, Putmainah memutuskan untuk bersembunyi di tengah hutan belantara.Blitar selatan yang dikenal sebagai wilayah tandus justru menjadi lokasi persembunyian dan pertahanan yang aman bagi para pelarian politik agar tidak menjadi korban penumpasan PKI. Hampir selama tiga tahun, ia bersama pelarian lainnya bersembunyi untuk menghindari kejaran tentara angkatan darat (AD) dan massa ormas Islam. Di tengah hutan dan perbukitan kapur tersebut, terdapat Gua Gayas yang dijadikan tempat berteduh.Gua itu sangat kecil dan pengap, sehingga orang-orang yang bersembunyi di dalamnya harus rela berhimpit-himpitan.

Untuk bisa bertahan hidup, Putmainah minum dari tetesan air yang sangat terbatas dari dinding gua. Kemudian, ia akan keluar pada malam hari untuk mencari dedaunan yang bisa dimakan. Tiga tahun hidup di hutan membuatnya bisa membedakan mana daun yang bisa dimakan dan mana yang tidak.Lama kelamaan, kondisi yang mengenaskan tersebut membuat para pelarian tumbang satu per satu dan memutuskan untuk keluar dari gua. Namun, Putmainah memutuskan untuk tetap bertahan hingga akhir. Akan tetapi, akhirnya ia berhasil ditangkap setelah salah satu pengikut PKI memberitahukan bahwa masih ada anggota PKI yang masih hidup lainnya bersembunyi di dalam gua. Putmainah kemudian digiring ke koramil di daerah Lodaya dan diinterogasi terkait keterlibatannya.Iakukuh mengatakan bahwa ia tidak tahu menahu mengenai G30S/PKI dan tidak pernah ikut memberontak. Ia lantas dipindah ke Kediri, lalu ke penjara militer di Madiun, sebelum akhirnya ditahan di penjara Plantungan, Kendal. Penjara bekas rumah sakit penderita kusta ini berisi tahanan perempuan, sehingga sering disebut Pulau Buru-nya Gerwani.

Putmainah Jadi Korban Penumpasan PKI yang Masih Hidup

Baca juga : Definisi, Faktor Pendorong, Dan Contoh Integrasi Sosial

Putmainah menghabiskan waktu selama 10 tahun menjadi tahanan politik di Plantungan.Ia mengisi kesehariannya dengan bercocok tanam, membuat kerajinan tangan, dan bermain kesenian. Beberapa kali orang tua dan anak sulungnya mengunjungi Putmainah untuk sekedar menanyakan keadaan.Bisa dibilang, Putmainah menjadi bagian kisah anggota PKI yang lolos dari pembantaian yang beruntung. Ini karena iatidak mendapatkan penyiksaan sama sekali, hanya diinterogasi secara rutin selama di pengasingan. Keluar dari pengasingan, Putmainah kembali ke kampung halaman dan membesarkan anak-anaknya seorang diri tanpa sang suami yang mungkin telah menjadi salah satu korban pembantaian PKI. Ia pun sering dikunjungi berbagai aktivis, akademisi, maupun jurnalis untuk menceritakan bagaimana kisah anggota PKI yang lolos dari pembantaian yang dialaminya. Bahkan, Putmainah sempat diundang ke seminar di Korea Selatan untuk membagikan kisahnya.

Leave a Reply