Muso Dan Tujuan Pemberontakan PKI Di Madiun

Diposting pada

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, dinamika perpolitikan di Indonesia semakin berkembang.Hal ini ditandai dengan lahirnya berbagai partai politik yang menandai partisipasi masyarakat dalam bidang politik semakin tinggi. Namun, tidak semua partai politik memiliki jalan yang mulus dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Partai yang memiliki sejarah cukup kelam di negeri ini adalah Partai Komunis Indonesia (PKI), yang juga melakukan pemberontakan di Madiun. Tujuan pemberontakan PKI di Madiun mencakup berbagai aspek.

Muso Dan Tujuan Pemberontakan PKI Di Madiun

Baca juga : Latar Belakang Pemberontakan Andi Azis Di Indonesia Timur

Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah sebuah partai politik yang sudah didirikan sejak tahun 1926 atau sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. PKI bersanding dengan partai-partai pertama baru setelah Indonesia merdeka, seperti PNI dan Masyumi. Bahkan PKI memiliki massa yang cukup besar dan memiliki kepopuleran di kalangan grass root. Kejayaan PKI tak berlangsung lama, setelah adanya peristiwa G/30SPKI, dimana pada peristiwa ini enam jenderal dan satu ajudan terbunuh setelah ditemukan dalam sebuah sumur di Lubang Buaya. Namun jauh sebelum peristiwa itu terjadi, PKI merupakan partai oposisi yang mengusung ideologi komunis. Di masa kepemimpinan Muso, PKI melakukan pemberontakan di Madiun.Tujuan pemberontakan PKI di Madiun adalah adanya keinginan dari Muso untuk mendirikan Republik Soviet Indonesia yang pro Sovyet dan pro komunis. Hal ini tentu saja mendapatkan pertentangan dari Presiden Ir. Soekarno.Maksud dilakukannya pemberontakan PKI di Madiun dianggap menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia, karena Indonesia tidak menjadikan komunis sebagai ideologi negara.

Tujuan pemberontakan PKI di Madiun oleh Muso dan pasukannya tercapai dengan dibentuknya Republik Soviet Indonesia. Namun, hal ini segera direspon oleh pemerintah dengan mengirimkan divisi Siliwangi untuk meredam pemberontakan di Madiun. Praktis saja, cita-cita pemberontakan PKI di Madiun ini dapat diredam, apalagi setelah tewasnya Muso. Namun, sayangnya dua tokoh pemuda PKI yaitu Aidit dan Lukman dapat lolos dalam upaya pembersihan pemberontakan oleh Divisi Siliwangi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan diteruskannya apa yang menjadi target pencapaian pemberontakan PKI di Madiun, sekalipun Muso sudah meninggal.

Dalam peristiwa pemberontakan dengan maksud pemberontakan PKI di Madiun untuk membentuk Republik Indonesia Soviet ini, ribuan orang meninggal. Hal ini dapat terjadi karena pada saat itu, PKI telah memiliki massa yang cukup banyak, terutama dari kalangan buruh dan petani. Dalam peristiwa pemberontakan itu, pejabat pemerintah, pemimpin partai dan santri yang dianggap menghalangi upaya pemberontakan PKI pimpinan Muso dibunuh. Santri menjadi salah satu target PKI karena santri dan kalangan ulama sangat menentang ideologi komunis yang dianggap menihilkan eksistensi Tuhan dan dikhawatirkan dapat mengajak masyarakat untuk menjadi atheis. Dalam peristiwa tersebut, pertentangan antara blok barat dan blok timur sangat terlihat. Amerika menjadi pihak yang sangat dekat dengan Indonesia, dimana hal ini terlihat dari peran Amerika menjadi penengah dalam konflik perundingan kemerdekaan antara Indonesia dengan Belanda. Sementara itu, posisi Uni Soviet menjadi semakin terancam dan terpojokkan, karena ideologinya dianggap menyimpang bagi Indonesia, yaitu ideologi komunis.

Baca juga : Integrasi Sosial adalah Cara Atasi Perpecahan, Benarkah Demikian?

Dalam pemberontakan ini, pertentangan untuk mempertahankan ideologi sangat terasa terjadi, namun sayangnya memakan korban dan masyarakat itu sendiri. Sebagai presiden, Soekarno telah mengambil langkah yang cukup cekatan sehingga pemberontakan Muso dan kawan-kawan tidak meluas ke daerah-daerah lainnya.
Tujuan pemberontakan PKI di Madiun ini menggambarkan bahwa, Indonesia tidak bisa menerima ideologi lain selain Pancasila. Selain itu, sisi religiusitas masyarakat Indonesia sangat tinggi sehingga kekhawatiran masuknya ideologi yang dapat memberikan pengaruh terhadap keyakinan atas Tuhan menjadi faktor pengusik.

Loading...

Tinggalkan Balasan