Latar Belakang Pemberontakan RMS dan Upaya Mengatasinya

Latar Belakang Pemberontakan RMS dan Upaya Mengatasinya

Posted on

Republik Maluku Selatan (RMS) merupakan salah satu gerakan pemberontakan yang terjadi paska berdirinya Republik Indonesia Serikat (RIS). Gerakan ini diproklamasikan oleh Dr. Christian Robert Steven Soumokil atau lebih dikenal dengan sebutan Soumokil pada tahun 1950. Berikut adalah detail latar belakang pemberontakan RMS dan bagaimana upaya pemerintah mengatasinya.

Latar Belakang Pemberontakan RMS (RMS)

Latar Belakang Pemberontakan RMS dan Upaya Mengatasinya

Baca juga : Latar Belakang Pemberontakan RMS dan Upaya Mengatasinya

Pada tahun 1949, Konferensi Meja Bundar (KMB) menghasilkan kesepakatan yang meresmikan berdirinya negara federasi Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS terbagi menjadi 7 negara bagian yaitu Negara Republik Indonesia (RI), Negara Indonesia Timur (NIT), Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, Negara Madura, Negara Sumatera Timur, dan Negara Sumatera Selatan. Proses pemersatuan Negara Kesatuan RI di bawah RIS ini menuai penolakan dari berbagai kalangan sepertidi wilayah Indonesia bagian timur termasuk yang kemudian menjadi latar belakang pemberontakan RMS.

Pada awalnya, kabinet NIT terpaksa dibubarkan setelah mendapatkan mosi tidak percaya pada tanggal 20 April 1950, sehingga gagal bergabung ke dalam wilayah NKRI. Gerakan pemberontakan pun mulai terjadi untuk melepaskan wilayah Maluku dari bagian NKRI. Setelah pemberontakan Andi Aziz gagal, seorang mantan Jaksa Agung NIT sekaligus menjadi bagian dari pemberontakan Andi Aziz, Soumokil melarikan diri ke wilayah Maluku Tengah. Ia pun berusaha mempertahankan tujuannya untuk membebaskan wilayah Maluku. Inilah yang menjadi awal latar belakang terjadinya pemberontakan RMS.

Kemudian, diadakan sebuah perundingan di Ambon yang dihadiri Ir. Manusaman dan para pemuka KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Perundingan ini sempat mengusulkan untuk menjadikan Maluku Selatan sebagai daerah yang merdeka setelah ‘membersihkan’ seluruh anggota dewannya. Akan tetapi, usulan tersebut ditolak. Perundingan justru menghasilkan kesepakatan untuk memproklamasikan kemerdekaan Maluku Selatan. Kala itu, memang telah dimulai propaganda untuk memisahkan wilayah Maluku dari NKRI yang digawangi oleh Gubernur Sembilan Serangkai yang beranggotakan pasukan KNIL dan partai Timur Besar. Selain itu, Soumokil juga berhasil membangun basis kekuatan dari masyarakat Maluku Tengah setelah mendapatkan dukungan dari sekelompok mantan prajurit KNIL dan masyarakat pro-Belanda lainnya. Mereka bahkan tidak segan-segan mengancam dan memenjara siapapun yang mendukung NKRI.

Akhirnya, 25 April tahun 50, gerakan separatisme ini secara resmi mendirikan  Republik Maluku Selatan. Negara bentukan RMS ini mengangkat J.H Manuhutu sebagai kepala negara pertama, dengan Perdana Menteri Albert Wairisai, serta Soumokil dan tokoh-tokoh lainnya yang mengisi jajaran menteri. Tetapi, pada 3 Mei 1950, Soumokil menggantikan Manuhutu sebagai presiden.Pada intinya, latar belakang pemberontakan RMS adalah ketidakpuasan terhadap RIS sehingga mereka ingin memisahkan diri dan mendirikan negara sendiri di luar NIT.

Upaya Penumpasan Pemberontakan RMS

Pada awalnya, pemerintah Indonesia berusaha melakukan penyelesaian RMS dengan cara damai. Tokoh asli Maluku yaitu Dr. Leimena sengaja dikirim untuk melakukan misi perdamaian, namun ditolak oleh Soumokil. Begitu pula dengan misi perdamaian lainnya yang melibatkan politikus, pendeta, wartawan, maupun tokoh-tokoh lainnya. Gagalnya cara damai membuat pemerintah tidak punya cara lain selain upaya penumpasan RMS lewat operasi militer. Dibentuklah Gerakan Operasi Militer (GOM) III dibawah pimpinan A.E Kawilarang yang melakukan penyerangan pada tanggal 14-15 Juli 1950. Pasukan militer pemerintah berhasil menguasai wilayah Ambon dan membuat pasukan RMS mengungsi ke Pulau Seram. Operasi ini berhasil menangkap Manuhutu pada tahun 1952, disusul Soumokil pada tahun 1963 yang dijatuhi hukuman mati.

Baca juga : Kisah Tragis Pembantaian PKI di Banyuwangi

Akan tetapi, sebagian pemimpin RMS berhasil melarikan diri ke Belanda untuk mendirikan pemerintahan di pengasingan dan terus mempertahankan aksi RMS setelah reformasi. Dampak pemberontakan RMS pun semakin menjadi-jadi dimana mereka berani melakukan berbagai aksi penyanderaan warga sipil, aksi bunuh diri, bahkan mengibarkan bendera RMS di hadapan Presiden SBY saat menghadiri upacara di Ambon.

Leave a Reply