Latar Belakang Pemberontakan DI TII Di Jawa Barat

Latar Belakang Pemberontakan DI TII Di Jawa Barat

Posted on

Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) menjadi salah satu sejarah kelam Indonesia dalam menyatukan Nusantara. Walaupun terjadi di berbagai daerah, namun pemberontakan DI/TII di Jawa Barat menjadi basis dan penyulut terjadinya pemberontakan yang sama di daerah lainnya. Mari kita ungkap lebih dalam apakah latar belakang pemberontakan DI/TII di Jawa Barat sebagai berikut.

Latar Belakang Pemberontakan DI/TII Jawa Barat

Baca juga : Putmainah, Kisah Anggota PKI Yang Lolos Dari Pembantaian

Latar belakang pemberontakan DI/TII diawali setelah pada tanggal 17 Januari 1948, Perjanjian Renville mengharuskan pasukan TNI di kantong-kantong gerilya untuk berkumpul di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Akibatnya, pasukan Siliwangi yang memiliki basis di Jawa Barat harus meninggalkan wilayahnya untuk berhijrah Yogyakarta. Kekosongan tentara di wilayah Jawa Barat membuat pasukan Belanda sudah siap menguasai wilayah ini kembali. Akan tetapi, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang memimpin pasukan Hisbullah dan Sabilillah tidak ingin meninggalkan Jawa Barat. Ia ingin menentang dan menghapuskan penjajahan Belanda di Indonesia.

Pada tanggal 10 dan 11 Februari 1949, S.M Kartosoewirjo memimpin pertemuan darurat di Desa Pang Wedasan, Cisayong untuk menghadapi situasi ini. Saat itu, hadir beberapa pemimpin gerakan dan organisasi Islam lainnya seperti Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), Hizbullah dan Sabillillah. Pertemuan yang disebut dengan Konferensi Cisayong tersebut menghasilkan beberapa keputusan penting sekaligus menjadi latar belakang pemberontakan DI/TII, meliputi:

  • mengubah ideologi Islam dari kepartaian menjadi bentuk kenegaraan yang lebih konkrit,
  • membekukan kelompok Masyumi di Jawa Barat
  • membentuk Majelis Islam (MI) yang akan menjadi pemerintahan dasar bagi umat Islam di Jawa Barat
  • meleburkan pasukan Hisbullah danSabilillah menjadi Tentara Islam Indonesia (TII).

Pada pertemuan tersebut, S.M. Kartosoewirjo diangkat menjadi imam yang memimpin gerakan politik mereka yaitu Darul Islam (DI) yang bermarkas di Tasikmalaya. Gerakan ini menolak hasil perjanjian Renville yang dengan kata lain juga menolak terbentuknya NKRI. Dengan basis militer yang cukup kuat, pada tanggal 7 Agustus 1949, S.M. Kartosoewirjo secara resmi mengumumkan bahwa Negara Islam Indonesia (NII) telah berdiri di Indonesia. DI memproklamasikan cita-cita mereka untuk mengubah Indonesia menjadinegara Islam.

Tujuan Pemberontakan DI/TII

Keinginan untuk mengubah Nusantara menjadi negara yang menerapkan dasar hukum berdasarkan syariat Islam menjadi tujuan pemberontakan DI/TII semakin gencar. Bahkan, pada undang-undang yang diproklamasikan DI mengungkapkan bahwa hukum tertinggi NII adalah Al-Qur’an dan Hadist, sehingga mereka menolak ideologi lain yang dianggap sebagai hukum kafir.

Kronologi Jalannya Pemberontakan DI/TII

Awalnya, jalannya pemberontakan DI/TII di Jawa Barat terbilang mulus. Hal ini dikarenakan saat itu Pasukan Siliwangi tengah meninggalkan wilayah Jawa Barat.Kelompok pemberontak ini memulai aksinya dengan sangat kejam.Mereka menarik pajak yang tinggi kepada rakyat setempat, menjarah mereka yang tidak bisa membayar, hingga merusak dan membakar rumah penduduk setempat. Bahkan, mereka juga tidak segan menyiksa warga dan merusak fasilitas umum seperti jalan kereta api. Akibat pemberontakan DI/TII tersebut, warga Jawa Barat mengalami teror berkepanjangan tanpa adanya perlindungan dari TNI.

Baca juga : Faktor Penghambat Dan Faktor Pendukung Integrasi Nasional Di Indonesia

Akhirnya, kelompok DI/TII harus menghadapi pasukan Siliwangi saat mereka telah kembali ke Jawa Barat.Akan tetapi, kelompok ini tidak mudah untuk ditumpas. Mereka membangun markas di wilayah pegunungan untuk bisa bergerak secara bergerilya sehingga dapat dengan leluasa bergerak di lingkungan penduduk. Ditambah lagi, pasukan Sekarmadji ini mendapatkan bantuan dari para pendukung Negara Pasundan dan orang Belanda pemilik perkebunan. Tidak berhenti disitu, latar belakang pemberontakan DI/TII dan kisah perjuangan Sekarmadji ini pun menjadi penyebab pemberontakan DI/TII di wilayah lainnya seperti Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Tengah. Upaya penumpasan DI/TII digencarkan pemerintah Indonesia dengan menerjunkan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Setelah kesulitan menumpas pemberontak gerilya ini, pasukan Siliwangi dan rakyat melaksanakan operasi Bratayudha dan Pagar Betis pada tahun 1960. Akhirnya pada 4 Juni 1962, otak DI/TII yaitu Sekarmadji beserta para pengawalnya dapat ditangkap di Gunung Geber, Majalaya, Jawa Barat. Ia pun dijatuhi hukuman mati dan pemberontakan di wilayah lain dapat dihentikan.

 

Leave a Reply