Sejarah Valentine dan Negara Yang Mengadopsinya

Diposting pada

Hari raya valentine di pelopori oleh bangsa Romawi. Sejarah valentine adalah dimulainya penyembahan berhala oleh bangsa Paganis pada abad ke 17. Jadi, perayaan valentine merupakan kecintaan terhadap sesembahan masyarakat Paganis pada berhala. Sejarah valentine sangat banyak versinya. Akan tetapi, sebenarnya sejarah valentine tidak memiliki latar belakang yang jelas.

Sejarah Valentine

Sejarah valentine

Baca juga : Kronologis dan Sejarah G30S PKI Lengkap

Perayaan valentine ada sebelum 4 Masehi dan bertujuan untuk menghormati dewa Lupercus. Yang di agung-agungkan sebagai dewa kesuburan dan disimpulkan dengan upacara penarikan undian untuk mencari pasangan. Perayaan valentine tiap satu tahun. Sesudah itu, mereka tingglkan begitu saja hingga pada akhirnya 14 Februaru 269 Masehi meninggal Pastur Kristen yang bernama Valentine.

Sejarah valentine tidak didukung karena sebenarnya ini dikuasai oleh kerajaan yang dipimpin oleh Kaisar Claudius yang bengis. Sejarah valentine pada mulanya dimiliki oleh masyarakat Romawi yang mana Kaisar Claudius memiliki pasukan yang banyak dan ia memiliki keinginan agar setiap pria bergabung menjadi pasukannya. Akan tetapi, tidak semuanya pria akan terlibat. Sehingga hal ini membuat Claudius marah dan memerintahkan utusannya untuk membuatsayembara gila.

Claudius berpandangan bahwa jika laki-laki tidak menikah akan senang akan bergabung kedalam pasukannya. Kemudian Claudius melarang diadakan pernikahan. Sehingga keputusan ini tidak diterima oleh masyarakat yang salah satunya ditolak oleh pendeta Santo Valentine. Sejarah valentine dimulai ketika pendeta Santo tetap menikahkan pasangan secara rahasia. Namun, akhirnya diketahui oleh pihak kerajaan. Sehingga pada suatu malan Santo Valentine tertangkap dan ia dimasukkan ke penjara dan di hukum penggal.

Tanggal 14 Februari

Sejarah kematian valentine pada tanggal 14 Februari kemudian menyebar keseluruh wilayah Roma. Kemudian lama kelamaan kisah ini menjadi dongeng sejarah valentine. Pada tahun 494 Masehi, Paus Galasius mengubah sebuah perayaan upacara yang bernama Lupercaria yang diadakan pada setiap tanggal 15 Februari. Acara ini diresmikan oleh pihak gereja. Akan tetapi, 2 tahun kemudian acara tersebut diganti menjadi 14 Februari untuk memperingati meninggalnya Santo Valentine.

Penggalian makam Santo Valentine yang disangka-sangka kemudian diambil untuk ditaruh pada sebuah peti mati untuk dikirimkan ke gereja yang bernama Whitefriar Street Carmelite Church yang terletak di Dublin, negara Irlandia. Kemudian jenazah ini diberikan oleh Paus Gregorius XVI semenjak tahun 1836.

Kalender gereja menghapus perayaan valentine ini pada tahun 1969 yang dimaksudkan sebagai usaha untuk menghapus Santo yang diyakini hanya sebagai dongeng. Akan tetapi masyarakat sekarang malah masih menggembor-gemborkan pesta valentine yang tidak jelas itu.

Valentine Dianggap Hari Raya Kasih Sayang

Sesuai dengan perkembangannya agar tidak begitu formal, maka pihak gereja membungkus acara valentine dengan pesta-pesta dan hiburan. Di Indonesia, masyarakat salah kaprah dalam menanggapi hari kasih sayang. Bagi sebagian masyarakat yang berada di Indonesia khususnya umat kristen masih merayakan 14 Februari sebagai hari raya valentine.

  • Kalangan Remaja

Usia remaja sangat labil, sehingga mereka hanya ikut-ikutan merayakan hari raya valentine yang notabene merupakan hari raya yang tidak jelas. Kalangan remaja sering memberi ucapan valentine.

  • Kalangan Dewasa

Bagi orang dewasa mereka sebenarnya memiliki hari raya kasih sayang khususnya bagi mereka yang sudah menikah. Hari raya kasih sayang bagi mereka adalah anniversary pernikahan.

Baca juga : Pengertian Integrasi Sosial dan Hal-hal yang Mempengaruhinya

Sebagai seorang yang beriman, ada baiknya tidak mengadopsi tradisi yang dilakukan oleh orang-orang barat agar terhindar dari musryik. Apalagi hari valentine yang ternyata merupakan selebrasi umat kristiani.

Loading...

Tinggalkan Balasan