Kisah Tragis Pembantaian PKI di Banyuwangi

Kisah Tragis Pembantaian PKI di Banyuwangi

Posted on

Kisah tragis pembantaian PKI di Banyuwangi dipicu ketegangan politik saat pemilihan umum bupati (pilhub) tahun 1964, terutama antara PKI dan NU(Nahdhlatul Ulama) dimana keduanya memiliki mayoritas kursi parlemen DPRD. Diawali adanya perpecahan internal yang terjadi di NU menyebabkan terbentuknya kubu NU-Utara dan NU-Selatan.PKI memanfaatkan situasi ini untuk menambah dukungan politik dengan mendekati kader NU-Utara yaitu H. Ali Mansur agar mendukung calon bupati yang diusungnya yaitu Suwarno Kanapi.

Latar Belakang Pembantaian PKI di Banyuwangi

Kisah Tragis Pembantaian PKI di Banyuwangi

NU-Selatan yang khawatir kehilangan suara akhirnya bekerjasama dengan PNI untuk mendukung calon mereka yaitu Kol. Djoko Supaat Slamet dari TNI-AD. Akan tetapi, koalisi NU-Selatan, PNI, dan TNI-AD mengalami kekalahan dalam pilbub. Mereka tidak terima akan kekalahan tersebut sehingga melakukan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut diadakannya pemilu ulang. Namun, permintaan tersebut tidak dikabulkan oleh Gubernur Jawa Timur sehingga semakin membuat persaingan politik antara PKI dan NU kian memanas.

Ketegangan ini akhirnya memuncak ketika pecahnya peristiwa G30S/PKI. Gelombang propaganda anti-Komunis pun semakin menjadi-jadi di hampir seluruh wilayah nusantara terutama Banyuwangi. Terjadilah konflik horizontal antara massa PKI pendukung Suwarno Kanapi dengan massa PNI-TNI AD-NU Selatan pendukung Kol Djoko Supaat Slamet. Kesempatan ini dijadikan ajang balas dendam oleh NU untuk menggulingkan basis PKI beserta simpatisannya hingga berujung pada dimulainya pembantaian PKI di Banyuwangi.

Baca juga : Latar Belakang Pemberontakan DI TII Di Jawa Barat

NU mengumpulkan para pendukungnya yang sebagian besar terdiri dari Pemuda Ansor, Pemuda Marhaeinis, dan kelompok anti-komunis lainnya. Gerakan pembantaian PKI di Banyuwangi ini menyebarluas hingga ke level akar rumput di desa-desa kecil. Akan tetapi, PKI melakukan perlawanan terhadap para anti-komunis salah satunya tercatat pada peristiwa Cemetuk di Banyuwangi.

Tragedi Pembantaian di Desa Cemetuk

Desa Cemetuk saat itu menjadi basis utama berkumpulnya dan berkembangnya anggota PKI. Selain itu, Desa Cemetuk juga menjadi markas para bromocora yang bertindak seperti preman. Sebenarnya bromocora adalah Pemuda Rakyat yang terlibat sebagai organisasi underbow PKI. Bromocora sering berkeliling sambil membawa celurit untuk mengancam warga agar tidak membocorkan keberadaan PKI keluar.

Namun, pembantaian PKI di Banyuwangi tahun 1965 membuat suasana di Desa Cemetuk menjadi semakin mencekam. Para anggota PKI dan para simpatisannya banyak yang melarikan diri ke Cemetuk untuk mencari perlindungan. PKI pun memperkuat pos pertahanan di tiga titik yaitu Cemetuk timur, barat, dan tengah dengan bantuan para underbownya dan pemuda rakyat. Mereka sempat melakukan penyekapan terhadap anggota PNI dan Pemuda Demokrat agar menghentikan perburuan mereka terhadap PKI. Bahkan, PKI juga melakukan penjarahan pada masyarakat desa yang bekerja sebagai petani untuk mencukupi kebutuhan pangan mereka.

Saksi Trageti Cemetuk

Pada tanggal 18 Oktober 1965, terjadi penyerangan terhadap PKI di Karangasem oleh warga dari Desa Muncar yang dipimpin oleh tokoh-tokoh NU. Akan tetapi, PKI yang telah mendapatkan bocoran penyerangan ini berhasil melawan balik. Para penyerang ini justru terjebak dan berhasil ditangkap oleh PKI.J asad mereka yang tumbang dikubur di 3 lubang yang berbeda.Menurut keterangan berbagai saksi tragedi Cemetuk, hampir sekitar 62 orang dikuburkan di lubang buaya Cemetuk tersebut.

Baca juga : Putmainah, Kisah Anggota PKI Yang Lolos Dari Pembantaian

Tragedi Cemetuk tersebut memicu gelombang kemarahan dari kelompok non-komunis lainnya. Mereka mendirikan Badan Kordinasi Komando Siaga (BKKS) yang diubah menjadi Badan Komando Siaga (BKS) pada 30 Oktober 1965. Tugas BKS adalah melakukan pembantaian PKI di Banyuwangi secara besar-besaran dan terstruktur. Selain itu, terdapat pula pasukan “Gagak Hitam” yaitu masyarakat sipil yang memiliki keahlian bela diri dan berpakaian serba hitam saat melancarkan aksinya. Pengejaran dan pembunuhan ditujukan kepada siapapun yang terduga terlibat dengan PKI

Leave a Reply