Awal Mula Pemberontakan DI TII

Diposting pada

Pada kejadian Pemberontakan DI TII ini memang dahulu sudah pernah terjadi ada di beberapa daerah atau kota di Indonesia. Bermula sejak adanya gerakan DI TII yang memang telah adasejak lama, yaitu pada saat lahirnya sebuah Komite Pembela Kebenaran PSII yang terbentuk karenaadanya perpecahan pada Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII). Pada perpecahan tersebut yang yang akan menyebabkan adanya pemberontakan, dan membuat Kartosuwiryo jadi mendirikan sebuah perguruan Suffah di masa pendudukan Jepang yang sudah dikembangkan lebih dalam lagi untuk belajar kemiliteran bagi para pemuda Islam di Indonesia, khususnya bagi Hizbullah dan Sabilillah. Pada pemberontakan yang terjadi pada Tentara Islam Indonesia (DI/TII) ini merupakan salah satu pemberontakan yang terjadi karena menginginkan pergerakan untuk berdirinya negara Islam yang ada di Indonesia. Pemberontakan DI TII ini ada di berbagai daerah di Indonesia dengan bermula di provinsi Jawa Barat, lalu perlahan menyebar ke beberapa daerah lainnya, seperti di provinsi Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Aceh, dan juga Kalimantan Selatan.

Awal Mula Pemberontakan DI TII

Baca Juga : Latar Belakang G30S PKI Dan Hipotesis-Hipotesis Yang Ada

Yang pertama pada DI/TII di Jawa Barat pemberontakan dipimpin oleh S.M. Kartosuwiryo atau bernama panjang Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo. Di jaman masa pergerakan nasional, S.M Kartosuwiryo adalah seorang tokoh pergerakan Islam di Indonesia yang memang cukup disegani oleh orang-orang. Bahkan Kartosuwiryo memiliki cita-cita dalam mendirikan Negara Islam di Indonesia. Dalam mewujudkan cita-citanya tersebut Kartosuwiryo membangun sebuah pesantren di daerah Malangbong Garut, yang dinamakan Pesantren Sufah. Persantren tersebut digunakan untuk latihan kemiliteran oleh Hizbullah dan Sabillah. Semakin hari Kartosuwiryo berhasil memiliki banyak pengikut yang kemudian dijadikan pasukan untuk Tentara Islam Indonesia (TII) agar Kartosuwiryo semakin kuat.

Yang Kedua pada DI TII di Jawa Tengah pemberontakan dipimpin oleh dua orang yaitu Amir Fatah dan Mahfu’dz Abdurachman (seorang Kyai Somalangu). Amir Fatah berhasil mendapatkan pengikut, dan memproklamasikan dirinya dengan bergabung dengan DI/TII pada 23 Agustus 1949 tempatnya di Desa Pengarasan, Tegal, Jawa Tengah. Nah, dari sinilah Amir Fatah berhasil diangkat sebagai seorang Komandan Pertempuran dari Jawa Tengah dan diberi pangkat sebagai Mayor Jenderal Tentara Islam di Indonesia. Sedangkan, untuk Kyai Somalangu ini memimpin pemberontakan di daerah Kebumen, Jawa Tengah yang dibantu dan dilancarkan oleh pasukan Angkatan Umat Islam (AUI).Dengan begitu, pasukan di Jawa Tengah semakin kuat.

Di tanggal 20 September 1953 juga dilakukan pemberontakan DI TII di Aceh yang merupakan salah satu bagian dari pergerakan Negara Islam di Indonesia yang dipimpin Kartosuwiryo. Daud Beureueh yang telah memberikan pernyataan tersebut karena telah dikecewakan oleh pimpinan Republik Indonesia karena telah menghapuskan nama atau status Aceh yang sebagai Daerah Istimewa. Daud Beureueh juga memiliki jabatan sebagai ketua dari PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) yang dulunya merupakan seorang Gubernur Militer di Daerah Istimewa Aceh, setela masa Revolusi terjadi semakin banyak dukungan dari gagasannya.

Baca Juga : Kekejaman Dan Penumpasan Peristiwa G 30 S PKI Di Indonesia

Setelah itu, terjadilah DI TII di Kalimantan Selatan yang dipimpun oleh Kartosuryo di bulan Oktober 1950. Kemudian, seorang mantan Letnan Dua TNI yaitu Ibnu Hajar alias Haderi bin Umar atau biasa disebut Angli dengan anggota kesatuannya bergabung besama gerakan Kartosuwiryo. Yang terakhir, terjadi pemberontakan DI TII di Sulawesi Selatan yang juga telah dikecewakan oleh pemimpin dari RI.

Itulah, awal mula dari adanya pemberontakan DI TII yang diketuai oleh Kartosuwiryo. Namun, perlahan Gerakan DI/TII dapat dipadamkan. Adanya operasi militer di tanggal 14 Agustus 1962 mengungkapkan hasil dari Mahkamah Angkatan Darat bahwa Kartusowiryo akan menerima hukuman mati.

Loading...

Tinggalkan Balasan